Posted by: bundagaluh | May 5, 2008

Tantrum

Beberapa hari terakhir ini, Royan tuh suka punya kebiasaan melampiaskan kemarahan, kejengkelan, atau ketidakpuasaannya terhadap sesuatu dengan melempar segala sesuatu yang saat itu sedang dipegangnya. KEtika sudah dilempar, Royan akan segera menyusulnya dengan tangisan dan suara keras sambil minta diambilkan mainan atau apa yang ia lempar tadi. begitu di ambilkan langsung akan dilempar lagi dan hal itu akan terjadi berulang-ulang. Sampai pada akhirnya aku tidak mau mengambilkan mainan tersebut. Aku hanya memeluknya sambil mencoba memberi pengertian. Hal itupun tetap memerlukan waktu yang lama untuk Royan mau diam dan bermain lagi.

Kejadian ini terjadi hampir tiap hari sampai terkadang aku sendiri kewalahan menghadapi perilaku Royan tersebut. Akhire aku buka internet dan mencari tahu tentang perilaku Royan tadi.

Hasil browsingan internet, tindakan Royan itu katanya tergolong apa yang disebut TANTRUM yaitu perilaku anak untuk meluapkan emosinya dengan cara meledak-ledak. Hal ini terjadi pada kisaran umur 15 bulan sampai 6 tahun dan biasanya cenderung terjadi pada anak yang tergolong aktif dengan energi yang berlimpah.

Wah berarti bener kayane Royan lagi bertantrum ria nih…
Sebenarnya tantrum ini merupakan salah satu proses perkembangan fisik, kognitif, dan emosi anak. Sebagai fase perkembangan, tentu tantrum ini akan berakhir dan katanya ‘pasti berakhir’. Dengan tantrum ini, anak berusaha untuk menunjukkan independensinya, mengeluarkan pendapat serta melampiaskan kemarahan atau ketidakpuasannya. Terkadang tantrum ini juga merupakan media anak untuk meluapkan emosinya karena ia belum memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang ia alami atau rasakan secara verbal.
Nah, ketika tantrum ini terjadi ternyata kita para orangtua khususnya tidak boleh langsung memberikan reaksi spontan yang keras (meski ucapan: padahal ini yang biasanya aku lakuin :D). Jika kita langsung meresponnya dengan kemarahan, kejengkelan serta kata-kata yang bermakna memarahi atau menggurui misalkan “kamu tuh sudah besar, masak marah-marah gitu, yang pinter dong..” JUSTRU anak kita yang lagi bertantrum ria itu akan menjadi semakin histeris (hal ini terjadi pada Royan juga)
Kata pakar, katanya jika tantrum terjadi, maka kita harus tetap tenang NAMUN tidak mengacuhkan anak kita tersebut. Lalu peluk anak dengan penuh rasa cinta sehingga anak bisa merasa aman dan terlindungi. tapi jika dengan pelukan tidak manjur maka kita usahakan untuk berada disampingnya sambil bilang bahwa “Ibu sayang sama adek…dan ibu akan berada disini sampai adek selesai..” (wah kedengerannya gampang tapi ternyata agak susah juga lo mrakteinnya karena hal itu terkait dengan kebiasaan kita menangani anak…)
Hal ini membuatku semakin menyadari bahwa aku masih begitu begitu minim kemampuan dan pengetahuan dalam menanggapi setiap perilaku anak-anakku. Maafkan ibu ya nak…


Responses

  1. Setuju, jeng…susah banget prakteknya..tapi kita harus mencoba-mencoba dan mencoba…

  2. betul mbak dan ternyata lagi-lagi mbak bener bahwa kita para orang tua justru yang harus selalu belajar dan belajar dari anak-anak kita…apalagi setiap anak tuh terlahir dengan begitu banyak perbedaan baik sifat, sikap, maupun perilaku..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: