Posted by: bundagaluh | July 7, 2008

My Lovely Salsa’s Grown up

Ah, alhamdulillaah…hari-hari berat sudah terlewatkan…Tiga minggu ini rasanya loaded banget karena beberapa hal yang lumayan menyita energi, waktu dan biaya…Salah satunya adalah pernikahan adikku yang paling kecil (tante Rini)

Namun ketika flashback ke tiga minggu kemaren, ternyata banyak sekali hal-hal yang positif terjadi (Jelas ini bukti kebesaran dan janji Allaah SWT bahwa setelah kesukaran ada kemudahan) Dan ternyata bener…
Yang paling membuat aku bahagia adalah kedewasaan dan rasa kepercayaan diri Salsa yang meningkat dengan pesat.

Ceritanya begini, Salsa tuh termasuk anak yang ibu banget artinya apa-apa tergantung dan maunya sama aku ibunya. Contoh gampang, ketika persiapan pernikahan TAnte Rini itu, aku bikinin baju pesta buat Salsa dan sepupunya (Keysha)ke penjahit langgananku. Untuk pengukuran badannya pun Salsa tidak mau di ukur oleh bu Ngalim (penjahit). Akhirnya aku yang ngukur (itupun aku lakukan di rumah karena Salsa terlanjur menagis ketika mau diukur oleh bu Ngalim)
BEgitulah semenjak bayi memang Salsa tergolong anak yang susah dan nggak mau dengan orang lain apa lagi orang yang baru dikenalnya. Padahal menurutku aku tidak begitu protektif terhadap anak-anak.

Namun, ketika sekitar seminggu aku dan anak-anak boyongan di kampung untuk acara pernikahan Tante Rini, Salsa mulai kelihatan mandiri dan terlepas dari ibunya. Ia mau bermain bersama teman-teman sebayanya dan tidak mencari-cari ibunya. Bahkan Salsa main ke rumah salah satu temannya. Bagiku itu suatu kemajuan yang besar.

Itu hal pertama tentang Salsa, kemajuannya lagi adalah ketika Salsa menjadi pengiring Tante Rini dalam resepsi pernikahannya. Sebenarnya dari awal aku sudah mendorong dan membujuknya untuk mau jadi pengiring pengantin (patah dalah bahasa Jawa). Salsa mau dengan syarat harus aku yang merias dan memakaikan baju serta perlengkapannya. Di hari H ternyata Salsa mau dirias oleh periasnya. Tampil dengan pede dan banyak senyum di muka umum. Hebatnya lagi, Selama acara berlangsung sekitar 2 jam, Salsa sama sekali tidak rewel dan tidak mencari-cari Ibunya. Bahkan Uyang Uti pun kagum.

Yang ketiga, ketika kita sudah kembali ke rumah di Solo, kebetulan Tante Rini masih cuti dan tinggal di kampung. Eh, Salsa ikut tinggal di kampung. Memang sih ini sudah kedua kalinya Salsa tinggal di rumah eyang di kampung bersama tantenya. Namun satu hal yang beda adalah Salsa sudah berani pergi ke tempat teman sebayanya di kampung dan bermain di sana sendiri. Padahal rumah temannya itu cukup jauh dari rumah Eyang Uti.

Terakhir, Salsa dua hari ini sudah berani pergi sendiri ke toko pojok perumahan. Saking bersemangatnya karena aku puji Salsa betapa hebatnya dia dengan kemandirian dan kepercayaan dirinya, tadi pagi bangun tidur langsung tanya ke aku, “Bu, sing telas menapa ben Kakak tumbaske teng Eyang Wir? (Bu, yang habis apa biar Kakak belikan di Eyang Wir?)” Aku kaget dan berpikir sejenak karena tidak begitu siap dengan pertanyaan Salsa yang tiba-tiba. NAmun akhirnya aku ingat telur di kulkas tinggla satu butir. YA sudah, aku bilang ke Salsa untuk beli telur 1/2 kg di tokonya Eyang Wir. Eh, alhamdulillaah lakok ya terlaksana dengan baik.

YA Allaah, terimakasih atas anugerah yang Engkau berikan kepadaku.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: