Posted by: bundagaluh | July 19, 2008

Sekolah baru

Alhamdulillaah…akhirnya di hari ke 6 di sekolahnya yang baru, TK Djamaatul Ikhwan Solo, Salsa sudah mulai beradaptasi dan berkomunikasi dengan guru dan temen-temen barunya. Kemarin-kemarin di awal minggu aku sempat khawatir melihat Salsa selalu diam dan cenderung menyendiri (meski sudah tidak rewel sama sekali dan cukup mandiri ketika aku tinggal: kata temenku yang anaknya satu kelas dengan salsa) ketika berada di sekolah.

Pada saat acara baris-berbaris sebelum masuk kelas, Salsa hanya diam dan tidak mau mengikuti gerakan ibu dan bapak guru.Dia hanya berdiri didalam barisan sambil matanya menatap ke arahku. Ketika aku dekati dan kubujuk supaya mau bergerak dan bernyanyi seperti teman-temannya, salsa hanya menggeleng lemah. Lebih sedih lagi, di hari kedua, ketika acara lomba lari memindah bola, Salsa hanya berjalan pelan tak bersemangat sambil digandeng ibu Tita. Teriakan semangat yang kusorakkan tidak digubrisnya. Sungguh aku sedih dan bertanya pada diriku sendiri kok jadi begini. Padahal ketika berangkat sekolah salsa selalu gembira dan bersemangat namun kenapa ketika tiba di sekolah jadi hilang semangat. Pasti ada yang salah nih terutama pada apa yang aku lakukan sebagai ibunya. Dan ternyata benar…

Masuk hari ketiga Salsa masih seperti itu, lalu di rumah ketika sedang bersantai aku ajak cerita tentang sekolah barunya. Salsa ternyata cukup antusias menceritakan pendapatnya tentang sekolah barunya yang katanya lebih banyak mainannya, lebih luas kelasnya, lebih enak karena pulang cepet (sebelumya Salsa playgroup di full day school) dan bisa main games di komputer kantor ibu setelah habis sekolah. Bahkan Salsa ingin adiknya diajak ikut mengantarnya ke sekolah biar bisa main. Aku cukup lega mendengarnya. Yang membuatku kaget dan cukup syok adalah ketika Salsa dengan polosnya berkata “Kakak malu kalo dilihat ibu di sekolah dan inginnya langsung ditinggal serta tidak ditunggui ibu..”ketika aku tanya kenapa kalo di sekolah ia hanya diam.

Gubrak…pasti ada yang salah nih dengan pola asuhku sebagai ibunya. Aku syok karena selama ini Salsa itu tergolong anak yang ‘ibu banget’ dalam artian kalo tidak sama ibunya diajak pergi sama tantenya ato nginep di rumah eyang pasti tidak mau. Memang sih, salsa termasuk anak yang sebenarnya cukup susah beradaptasi dengan lingkungan dan orang baru (sedari bayi) namun justru dengan karakter ini biasanya salsa selalu ingin ditemani ibunya.

Lalu aku menoleh pada diriku sendiri dan menurutku sumber permasalhannya adalah karena selama ini, semenjak adiknya lahir, aku cenderung selalu menggunakan kata ‘harus’ ketika sama anak-anak. Dan terhadap Salsa, aku cenderung sering menanamkan bahwa Salsa harus menjadi contoh yang baik buat adiknya (Jadi malu, padahal aku belum bisa menjadi contoh yang baik buat Salsa dan Royan). JAdi menurutku sebagai ibunya aku terlalu keras dan terlalu menuntutnya untuk menjadi anak yang manis dan pinter…sehingga salsa menjadi terbebani dan merasa takut kalo tidak bisa menjadi seperti keinginanku. Makanya salsa lebih ingin ibunya tidak menunggui dan menyaksikan kegiatannya di sekolah.

Astaghfirullaah, ampuni aku ya Allaah..aku merasa berdosa banget dan menyesal atas kehilangan kepercayaan diri Salsa ini. Maafkan ibu, nduk…

namun, penyesalan bukanlah solusi dan justru tidak akan bermakna kalo aku tidak merubah dan memperbaiki kesalahanku itu. Akhirnya aku coba untuk mengurangi kata-kata ‘harus, jangan, tidak boleh, dan sebangsanya…’ Dan yang terpenting ketika berada di sisi anak-anak aku coba untuk lebih memotivasi BUKAN menggurui. Contohnya, ketika di rumah dengan penuh semangat dan suka cita Salsa mempraktekkan segala kegiatan di sekolah (termasukbaris-berbaris, dan ajaibnya meski di sekolah diem Salsa sudah hapal lagu dan gerakannya loh…) aku puji dia sambil aku peluk dan tatap matanya ketika berkata, wah hebat…kakak pinter. PAsti besok di sekolah, kakak bisa baris dan nyanyi kaya tadi nih…Oke sebagai hadiahnya, nih satu stiker bintang buat kakak…’ Langsung Salsa lari dan menempel stikernya di grafik keberhasilan.

Dan alhamdulillah keesokan harinya dan sampai tadi pagi ketika lonceng berbunyi tanda acara baris-berbaris akan dimulai, langsung Salsa meraih tanganku dan minta supaya aku lihat dia melakukan gerakan dan nyayian baris-berbaris…

Alhamdulillaah…semoga ini bukan sekedar sesaat. Artinya semoga aku bisa belajar dan memperbaiki kualitas dan pola asuhku terhadap anak-anak. Yang sangat-sangat susah nih menghilangkan kecerewetanku ini…hiks😦

BTW, sebenarnya ada pertanyaan juga nih dalam hati mengenai grafik keberhasilan (anak diberi stiker bintang/semacamnya) itu merupakan sesuatu yang terlalu menuntut tidak ya? Ah, paling tidak itu semacam motivasi dan kuncinya adalah bagaimana kita memberikan pengertian mengenai grafik keberhasilan itu ke buah hati kita. Iya nggak?


Responses

  1. sindrom sekolah baru…
    grafik keberhasilan?? bagus kok mbak…sebenarnya kan itu membantu unruk menciptakan sebuah rutinitas yang ‘bagus’..yang penting anak semangat dan senang kan…di sekolah juga kadang ada penghargaan dengan sistem stiker …ayo mbak..semangat..

  2. iya..saking semangatnya Salsa dan Royan, stikernya habis melulu… ^_^…untungnya tuh di sekolah baru kasih bintangnya pake stempel…jadi ada ide lain nih buat agak sedikit ngirit….paling tidak kalo pake stempel bintang Royan tidak akan melepasi bintang-bintangnya. Meski harus korban dinding bakalan penuh stempel😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: