Posted by: bundagaluh | August 26, 2008

“Kok, kakak yang dimarahi to bu…”

Kamis minggu kemaren, di pagi hari disela-sela acara sarapan, seperti biasa, aku dan de’Royan asyik menggambar. Saat itu aku menggambar rumah di kertas folio. De’ Royan menggambar matahari dan kereta api (hi hi hi … lucu deh wong kereta api kok cuma bulatan bulatan yang dikasih garis untuk menyambungnya..harusnya kotak tuh de’…). Setelah gambar rumahnya selesai, aku warnain deh… dan de’ Royan juga ikut-ikutan mewarnai matahari dan keretanya.

Lama-lama mulai deh de’ royan usil. Tiba-tiba krayon warna merah ditanganku direbut. Tentu saja aku teriak ‘jangan de…ini krayon kakak…itu punya adik yang itu…” Tetep aja de’ royan ngrebut. Tapi tetep tidak aku kasih sampe akhirnya de Royan nagis kenceeeeng banget…

Ibu, yang lagi ganti baju di kamar langsung keluar deh trus seperti biasa bilang gini,” hayo kakak…adek diapain kok nangis. Kakak kan udah gede, harusnya ngalah dong biar adek ga nangis… dan bla-bla-bla”
Aku sedih banget, lalu aku masuk kamar dan nangis tersedu-sedu.

Mendengar aku menangis, ibu langsung masuk kamar dan bertanya sambil membenahi jilbabnya yang belum rapi, “kok kakak nagis sih, kenapa…ayo diem dan cepet diambil tasnya. Sudah siang tuh…nanti telat lho..”
Aku jadi tambah sedih dan nangis kenceng. “Lho kok malah nangisnya kenceng, ayo cepetan nduk…”, kata ibu yang kali ini sambil duduk disamping tempat tidurku. Aku masih tetep nangis. “Kenapa toh?” kata ibu sambil membalikkan badanku dan mendudukkanku di pangkuannya. “Ibu jahat…wong yang nakal tadi adek kok kakak terus yang dimarahin…adek tuh buk dimarahin juga tadi ngrebut krayon kakak..padahal adek kan sudah punya krayon sendiri…” kataku sambil tetep sesenggukkan menangis. Spontan ibu langsung memelukku dan berkata, “maafkan ibu ya nduk…ibu dah marahin kakak padahal kakak nggak salah..Maafkan ibu ya…” aku lihat ada ada airmata di pipi ibu…”Iya bu…”kataku sambil mengencangkan pelukanku. “Maafkan kakak juga…besok-besok kalo adek pengin krayonnya kakak, nggak papa supaya adek ga nangis dan ibu ga sedih…”

=====
Ibu: ah nduk…betapa dewasanya engkau sayang…maafkan ibu…
memang sih cenderung selalu kakaknya yang aku salahin dan suruh mengalah ketika anak-anak lagi berebutan mainan. Sebenarnya aku tahu ini salah, tapi kok ya spontan terus hal itu terjadi…gimana dunk?


Responses

  1. ya, itulah mbak..sepertinya sudah mendarahdaging ya…susah banget menghilangkan spontanitas dalam hal ini…padahal efeknya jelas2 kita tahu ga bagus…mau gimana lagi…yg penting kita berusaha terus dan menyadari kesalahan kita…

  2. Aku juga kadang begitu mbak.. reflek aja menegur Yudhis. Susahnya, Yudhis itu tampangnya lebih polos dari tampang adiknya yang jail.. jadi kadang suka bingung siapa duluan yang mulai ^_^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: