Posted by: bundagaluh | September 13, 2008

Royan oh Royan…

Akhir-akhir ini terus terang aku sedih dan nelangsa setiap kali berada di rumah dan melihat tingkah polah Royan. Lewat media ini aku berharap saran, masukan atau apapun dari temen-temen terhadap masalah aku ini. Seperti yang biasa aku deskripsikan, Royan (2,6th) termasuk anak yang memiliki energi lebih (itu yang aku simpulkan settelah browsing beberapa artikel tentang perilaku Royan). Dalam artian Royan tidak pernah bisa diam meski hanya untuk beberapa menit saja…bahkan nonton CD kesayangannya pun Royan tidak akan bisa duduk meski berada di pangkuanku. Sebenarnya ini ada bagusnya karena berarti Royan juga termasuka nak yang aktif dan sehat. NAMUN, yang membuat hatiku risau dan sedih adalah perilakunya yang suka menyerang siapa saja yang ada disekitarnya entah pada saat Royan tidak keturutan apa yang jadi maunya atau sekedar iseng saja.
Contoh yang paling sering adalah ketika kakaknya (Salsa) lagi belajar, tiba-tiba saja Royan menduduki punggungnya dengan keras, begitu Salsa teriak, langsung deh Royan memukul, menjambak, atau yang lain. Bahkan kemaren aku ditendang pakai kakinya. Astaghfirullaah, ada apa dengan Royanku??
Sering akau meratapi diri sendiri, apakah Royan begini tuh karena sehari-hari hanya ebrsama mbak MI? Tapi menurutku, mbak MI bukanlah tipe orang yang suka memukul atau bahkan mencubit sekalipun. Orangnya cukup sabar dan biasanya kalau sudah kewalahan menghadapi Royan, mbak MI hanya akan mendiamkannya saja.
Begitupun dengan kebiasaanku dan suami. Kami tidak pernah memukul atau main tangan. Satu-satunya (maaf) kekerasan fisik yang aku lakukan jika dalam kondisi yang parah adalah meremas BUKAN mencubit/nyiwel (maaf) pantatnya. Kakaknya pun juga bukan tipe anak yang menyerang bahkan begitu sabar (untuk ukuran anak seumur Salsa) dalam menghadapi perilaku adiknya.
Kami sudah berusaha sabar (tapi mungkin kurang maksimal) dalam menghadapi sikap Royan tersebut dan selalu berusaha mengajaknya komunikasi. Entahlah…
Mungkinkah ini semacam bentuk protes Royan yang sehari-hari aku tinggal kerja (08:00-16:00)?
Sering aku goyah untuk keluar dari pekerjaan tapi bagaimana kalau kondisi masih mengharuskan aku untuk ikut keluar dunk?? Please, temen-temen, help…


Responses

  1. Wah… berat juga mbak ya…. Pasti kalau lagi kerja kepikiran terus.

    Aku ada cerita, teman anakku ada yg bully juga waktu kecil. Dia suka mukulin temannya dan ketawa2 abis mukul. Ibunya sudah nyaris kehabisan akal karena kalau dimarahin seolah2 nggak ngerti kalau itu salah (umurnya sekitar 3 tahun).

    Terus sama neneknya “dihukum” tangannya diiket (nggak kenceng dan nyakitin), setiap kali dia mukul temannya. Baru dilepas kalau dia janji kalau tidak mukul lagi. Jadi, lama2 dia jadi tahu korelasi antara mukul temannya dan “diiket”.
    Waktu awal, aku juga agak susah terima anak kecil diiket. Tapi, ternyata itu efektif buat anak itu. Dia nggak lagi mukul2 temannya.

    Prosesnya sendiri aku lihat tidak instan, tapi cukup lama; sampai berkali-kali “diiket”, nggak cuma sekali dua kali. Dari awalnya dia berontak dan meronta, sampai akhirnya dia bisa bilang “maaf-maaf” sebelum dihukum. Dan akhirnya nggak mukul temannya lagi.

    Aku nggak tahu apakah ini cocok utk kasus mbak Galuh. Sebab, setiap anak dan keluarga pasti berbeda2.

  2. Hmm…entahlah mbak. Aku belum berani sampai taraf itu. Aku justru takut kalo semakin aku kerasin, Royan akan semakin menjadi-jadi. Ketika aku cerita ke temen-temen di kantor ternyata hal itu memang pernah mereka alami dan katanya memang ada masa di mana anak menjadi bully. Ada yang menghukum (sampai menguncinya di kamar mandi) tapi ada juga yang mendiamkannya (katanya kalo sudah capek toh akan berhenti sendiri). Aku juga udah cerita ke eyangnya dan menurut beliau juga hal itu wajar untuk seusia Royan dan akan berakhir sendiri. Entahlah, yang kuharap hanya semoga benar Royan memang sedang berada pada fase itu dan semoga fase itu cepat berakhir. Karena aku takut mbak, di sekolah Salsa ada yang bully juga dan cenderung dijauhi temen-temennya dan menjadi bahan pembicaraan para ortu yang menunggui anak-anaknya di sekolah. Kan nggak enak banget mbak, aku takut membayangkan hal itu terjadi pada Royanku. Entahlah…
    Sejauh ini aku dan suami hanya sebatas menggertaknya dan mencoba untuk selalu lebih sabar…Btw, thanks ya mbak


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: