Posted by: bundagaluh | October 11, 2008

Pecel Puli Mbah Narti

Pecel Puli Mbah Narti

Sarapan pagi favorite keluarga kami ketika di kampong adalah “puli mbah Narti” yang bisa diperoleh di pasar Tugu (pasar kaget) dekat kampung kami. Puli ini atau di daerah lain dikenal dengan nama “gendar” adalah sejenis makanan tradisional yang berasal dari nasi putih biasa yang diberi “ragi” untuk membuat kerupuk/karak dan garam lalu dikukus dan dilumatkan sehingga menjadi kenyal. Puli ini bisa langsung dimakan dengan cara digoreng (dinikmati hangat-hangat ehm..enak..) atau dimakan dengan sambel pecel dan rebusan sayur atau biasanya kalau tidak habis (jika bikinan sendiri) diiris tipis-tipis lalu dijemur hingga kering dan kemudian digoreng menjadi kerupuk atau karak gendar.
(kalau di kampungku biasanya puli ini dibuat dari sisa nasi yang berlebih dan daripada dibuang atau hanya sekedar untuk makanan ternak. Meski berasal dari nasi kemaren (belum basi lho…) rasa puli atau karak/kerupuk (jika dijemur dan digoreng) tetap uenak dan ngangeni

Nah, beda dengan puli mbah Narti ini. Karena untuk dijual setiap pagi, maka jelas puli mbah Narti ini berasal dari nasi tanakan baru. Untuk memperolehnya, kita harus ngantri lebih dari satu jam karena puli mbah Narti yang dilengkapi dengan rebusan sayuran dan sambel pecel ini ternyata menjadi favorite warga di sekitar kampungku juga. Tak peduli meski harus berkali-kali jongkok dan berdiri supaya kaki tidak pegal karena lamanya antrian belum lagi seringnya mbah Narti itu mendahulukan priyayi-priyayi (orang-orang terpandang) di daerah kami (uhh..capek dech…), kami tetap saja rela antri demi menikmati puli mbah Narti ini. Sebenarnya di pasar Tugu itu ada sekitar 5 penjual puli lain tapi hanya mbah Narti ini yang peminatnya membludak. Dan begitu sudah berhasil mendapatkan puli dan keluar dari kerumunan, ahh rasanya mak plong dech…

Kata kak Ayu (keponakan yang dari Bogor) puli ini makanan favorite yang bisa ia nikmati satu tahun sekali ketika mudik karena selain rasanya mantap, untuk mendapatkannya benar-benar membutuhkan ekstra kesabaran dan kecerewetan supaya tidak kedahuluan sama pembeli lain hehehe…Padahal pembeli lain pada sebel karena kami biasanya membeli sekitar 20 bungkus..hihihi..takut ga kebagian kali…:D
maklumlah beberapa dari kami, Kak Ayu, kak Habib, pak de Wal, dan aku sendiri ga puas kalau hanya menikmati satu bungkus hahaha…:D


Responses

  1. mbak, itu favorit kami juga…bahkan di Jakarta kalo ada penjual pecel yang bau bumbunya mencirikan pecel gendar, pasti bakalan dikejar-kejar sama mas yudi…hehehe…untungnya salah satu penjual ada yang mangkal deket salon langganan, jadi mas yud bakalan rel nungguin aku di salon sambil makan tu pecel…hehehe..

  2. ih………..

    taN jaDi maLU tntaNG ceRita PuLi……………

  3. tapi bener khan….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: